Human at the Controls: Stefan Hajek dari Designit Ungkap Satu-Satunya Hal yang Masih Bisa Membedakan Brand di Tengah Seragamnya Teknologi AI
Uncategorized

Human at the Controls: Stefan Hajek dari Designit Ungkap Satu-Satunya Hal yang Masih Bisa Membedakan Brand di Tengah Seragamnya Teknologi AI

Lo lihat timeline medsos lo akhir-akhir ini. Iklan brand A, brand B, brand C… semuanya keliatan… sama. Visualnya mulus, copy-nya rapi, bahkan nada bicaranya mirip-mirip. Kayak mereka semua pake template yang sama. Dan lo curiga: mungkin mereka emang pake template yang sama—yang dibuat oleh AI.

Di tengah hiruk-pikuk teknologi yang makin canggih, para pemimpin marketing—CMO, CCO, Head of Brand—dihadapkan pada satu pertanyaan mengganggu: kalau semua brand bisa pake AI buat bikin konten yang bagus, lalu apa yang membedakan kita?

Stefan Hajek, Strategy Director di Designit—sebuah strategic design firm global yang berkantor di Berlin, Munich, Copenhagen, dan New York—punya jawabannya. Dan jawabannya mungkin nggak akan lo duga.

Dalam sebuah sesi terbaru, Hajek ngomong soal satu hal yang masih bisa membedakan brand di tengah seragamnya teknologi: keberanian manusia untuk berpikir liar dan tidak terduga. Bukan sekadar “manusia vs mesin”, tapi “kembali ke akar” di tengah gempuran teknologi. Ketika keberanian berpikir di luar kebiasaan jadi satu-satunya senjata yang nggak bisa dikloning.

Bukan Sekadar “Human Touch”, Tapi “Human at the Controls”

Gue jelasin dulu. Selama ini kita denger terus istilah “human touch” atau “sentuhan manusia”. Itu penting, tapi menurut Hajek, di era AI, itu nggak cukup. Karena “human touch” bisa juga diartikan sebagai manusia yang nge-verifikasi hasil kerja AI. Manusia jadi quality control, bukan pengendali utama.

Yang dimaksud Hajek adalah “Human at the Controls” —manusia tetap pegang kendali penuh. Manusia yang menentukan arah, yang berani ngambil risiko, yang berpikir di luar kebiasaan. AI sebagai alat, bukan sebagai komandan.

“Di tengah semua teknologi canggih ini, yang benar-benar membedakan brand adalah kemampuan untuk membuat pilihan yang tidak terduga, keputusan yang berani, dan ide-ide yang liar. AI bisa menghasilkan jutaan variasi, tapi dia nggak bisa memilih mana yang benar-benar berani,” kata Hajek dalam sebuah wawancara.

Tiga Contoh Nyata: Keberanian yang Nggak Bisa Dikloning

Biar lo makin paham, gue kasih tiga contoh brand yang berhasil beda karena keberanian manusia di baliknya.

1. Liquid Death: Air Kemasan dengan Jiwa Metal

Lo tau Liquid Death? Brand air kemasan ini salah satu contoh paling gila soal “keberanian berpikir liar”. Mereka jual air biasa dalam kaleng, dengan branding yang terinspirasi dari budaya heavy metal. Logo tengkorak, tagline “Murder Your Thirst”, dan konten medsos yang absurd, gelap, tapi lucu.

Coba bayangin: pasar air minum itu pasar paling membosankan dan seragam di dunia. Semua brand pake visual biru, segar, keluarga bahagia. Liquid Death datang dengan warna hitam, tengkorak, dan humor gelap. Gila? Iya. Tapi itu yang bikin mereka beda.

Hasilnya? Valuasi mereka sekarang tembus $1,4 miliar. Mereka nggak pake AI buat bikin strategi ini. Ini murni keberanian manusia buat ambil risiko dan milih jalan yang nggak biasa.

2. Oatly: Cerewet, Kritis, dan Nggak Sopan

Oatly, brand susu oat asal Swedia, punya pendekatan komunikasi yang unik banget. Mereka nggak cuma jual produk, tapi mereka juga kritis ke industri susu sapi. Di iklan-iklan mereka, mereka sering bahas isu lingkungan, keberlanjutan, dan kadang nyindir kompetitor dengan cara yang lucu.

Tone of voice mereka? Cerewet, ngeyel, kadang nggak sopan. Di dunia FMCG yang biasanya hati-hati banget, Oatly justru ambil risiko dengan bersikap blak-blakan. Mereka bahkan pernah bikin iklan yang isinya surat terbuka ke pemerintah dan kompetitor.

Ini bukan hasil generate AI. Ini hasil dari keberanian tim marketing dan founder yang punya visi beda. Dan hasilnya? Oatly jadi salah satu brand yang paling dibicarakan dan dikagumi di kategorinya.

3. Innocent Smoothies: Konsisten dengan Kepolosan

Innocent Smoothies udah 20 tahun lebih punya tone of voice yang sama: polos, lucu, dan hangat. Di setiap kemasan, di setiap postingan medsos, mereka ngomong kayak teman kecil yang lugu. Ada candaan kecil, ada pesan-pesan sederhana.

Konsistensi ini butuh keberanian. Karena selama 20 tahun, tren marketing berubah, teknologi berubah, tapi Innocent tetep jadi diri sendiri. Mereka nggak tergoda buat ikut-ikutan tren kekinian yang mungkin nggak cocok sama karakter mereka. Mereka tetep “human at the controls”—manusia yang memutuskan buat setia pada jati diri brand.

Data: Konsumen Capek Sama Keseragaman

Lo mungkin mikir, “Ah, mana mungkin konsumen peduli sama beda tipis.” Tapi data bilang lain:

  • Survei dari Stackla nunjukkin bahwa 86% konsumen mengatakan keaslian (authenticity) adalah faktor penting saat memutuskan brand mana yang mereka dukung .
  • Edelman Trust Barometer 2025 nyatet bahwa 67% responden merasa brand semakin sulit dibedakan satu sama lain karena mereka semua pakai taktik pemasaran yang sama .
  • McKinsey dalam laporan 2026 tentang “The State of AI in Marketing” nyebut bahwa 73% CMO khawatir bahwa adopsi AI yang masif bikin brand mereka kehilangan keunikan .

Konsumen capek. Mereka lihat iklan, baca copy, dan ngerasa “udah pernah liat ini sebelumnya”. Di sinilah peluang buat brand yang berani beda.

Tiga Kesalahan Fatal yang Sering Dilakukan CMO dan CCO (Common Mistakes)

Nah, ini penting. Banyak pemimpin marketing yang salah langkah. Catat poin-poin ini.

1. Terlalu Bergantung pada AI buat “Creative Strategy”

Ini jebakan terbesar. Lo pake AI buat brainstorming, buat nulis copy, buat desain visual. Semua hasilnya mulus, rapi, dan… standar. Karena AI itu dilatih dari data masa lalu. Dia cuma bisa ngasih lo apa yang udah pernah ada, bukan apa yang belum pernah terpikirkan.

Solusi: Gunakan AI buat eksekusi dan efisiensi, tapi jangan pernah serahkan strategi kreatif ke AI. Itu domain manusia. Itu tempat lo harus berani ambil risiko.

2. Takut Ambil Risiko, Lebih Pilih “Aman”

Di era ketidakpastian, banyak leader milih jalan aman. Mereka pake template yang udah terbukti, ikut tren, dan nggak mau beda karena takut salah. Akibatnya? Brand lo jadi satu dari sekian banyak, nggak ada yang inget.

Solusi: Ingat kata Hajek: “Keberanian berpikir liar itu satu-satunya senjata yang nggak bisa dikloning.” Berani beda mungkin berarti berani gagal. Tapi itu lebih baik daripada aman tapi nggak ada yang peduli.

3. Lupa Siapa Diri Brand Sendiri

Di tengah gempuran data dan teknologi, banyak brand lupa sama jati diri mereka. Mereka sibuk ngejar metrik, engagement, reach, tapi lupa kenapa mereka ada dan apa yang bikin mereka spesial.

Solusi: Kembali ke akar. Tanya: “Kenapa brand ini diciptakan? Nilai apa yang kita perjuangkan? Suara seperti apa yang ingin kita bawa ke dunia?” Jawabannya harus datang dari manusia, bukan dari analisis data.

Tips Praktis Buat Lo yang Mau “Human at the Controls” (Actionable Tips)

Oke, lo udah tau teorinya. Sekarang gimana praktiknya?

1. Pisahkan “Efisiensi” dan “Kreativitas”

Buat dua jalur terpisah di tim lo. Satu jalur buat efisiensi—di sini AI boleh digunakan sebebas-bebasnya buat ngurusin operasional, produksi konten massal, analisis data. Satu jalur lagi buat kreativitas strategis—di sini manusia yang pegang kendali, AI cuma jadi asisten kecil. Jangan campur aduk.

2. Adakan “No-AI Day” Secara Rutin

Ini ide dari beberapa agensi kreatif. Seminggu sekali, adakan sesi di mana tim nggak boleh pake AI sama sekali. Mereka harus brainstorming dengan cara lama: whiteboard, sticky notes, debat, gambar. Ini melatih otot kreatif yang mungkin udah mulai atrofi karena terlalu bergantung pada AI.

3. Cari “Outsider Perspective”

Salah satu kelemahan AI adalah dia cuma bisa ngasih lo perspektif dari data yang ada. Kalau lo mau ide yang benar-benar liar, lo butuh orang dari luar industri lo. Ajak seniman, musisi, atau bahkan anak SMA buat ngasih masukan. Perspektif mereka nggak akan pernah bisa dihasilkan AI.

4. Beri Ruang buat Gagal

Keberanian itu butuh ruang. Kalau di perusahaan lo, setiap kesalahan langsung dihukum, nggak akan ada yang berani ambil risiko. Ciptakan budaya di mana ide-ide liar dihargai meskipun gagal, selama ada pembelajaran di dalamnya.

5. Tanyakan: “Apakah Ini Bisa Dilakukan AI?”

Setiap kali lo dapet ide kreatif, tanya: “Apakah AI bisa menghasilkan ini?” Kalau jawabannya “iya”, berarti ide itu belum cukup liar. Cari lagi yang lebih dalam, lebih personal, lebih manusiawi. Yang bener-bener cuma bisa muncul dari kepala lo.

Kesimpulan: Kembali ke Akar, di Tengah Hiruk-Pikuk Teknologi

Stefan Hajek dari Designit ngasih kita pengingat penting di tahun 2026 ini. Di tengah semua kecanggihan AI, di tengah semua kemudahan yang ditawarkan teknologi, satu-satunya hal yang masih bisa membedakan brand adalah keberanian manusia. Keberanian buat berpikir liar, buat ambil risiko, buat milih jalan yang nggak biasa.

AI bisa bikin lo efisien. AI bisa bikin lo cepat. Tapi AI nggak bisa bikin lo berani. Keberanian itu domain manusia. Dan di era ketika semua brand pake alat yang sama, keberanian itu jadi satu-satunya senjata yang nggak bisa dikloning.

Seperti kata Hajek: “The future belongs to those who dare to be different, not those who optimize to be the same.”

Masa depan milik mereka yang berani beda, bukan mereka yang ngoptimalin buat jadi sama.

Gimana, lo udah siap jadi “human at the controls”? Atau masih nyaman di belakang layar, nyetir pake GPS tapi lupa jalan sendiri?

Anda mungkin juga suka...